Coretan 21 Tahun

21 tahun yang lalu, atau tepatnya tanggal 7 Mei 1992 pukul 01.43 WIB, di rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta, lahirlah seorang bayi dari seorang wanita bernama Dyah Triutami Kusumowardani. Selanjutnya, bayi itu kemudian diberi nama Prima Dini Indria. Sepintas, orang akan mengira bahwa bayi itu berjenis kelamin perempuan jika melihat nama yang dilekatkan kepadanya, namun kenyataannya bayi itu adalah laki-laki. Kelahiran anak ketiganya itu lantas membuat Bu Dyah dan suaminya merasa senang, meskipun secara jasmani bayi itu mengalami cacat fisik dan ternyata juga mengidap penyakit asma, meskipun sekarang sudah tidak pernah kambuh lagi. Iya, bayi itulah aku.

Cacat fisik yang diderita putranya tak lantas membuat bapak dan ibu berkecil hati atau merasa malu. Yang mereka takutkan justru kelak putra ketiganya akan mengalami rasa minder karena kekurangan itu. Untuk itulah bapak dan ibu terus membiasakan aku untuk bergaul dengan lingkungan sekitar. Misalnya, sejak kecil aku sudah sering diajak bermain ke tempat ramai seperti pusat perbelanjaan dan di tempat itu aku akan dibiarkan atau dilepaskan untuk berlari kesana kemari. Karena hal itu bapak, ibu, dan aku sempat kenal dengan beberapa karyawan di Ramai Mall, bahkan aku sering dibawa bermain oleh mereka.

Beranjak ke umur sekolah, atau tepatnya saat akan masuk SD, aku sempat ditolak oleh SDku dulu. Alasannya adalah kekuranganku ini, padahal saat itu aku sama sekali belum menjalani tes. Setelah kedua orang tuaku mendesak pihak sekolah, akhirnya aku diijinkan untuk mengikuti tes. Dan hasil tes ternyata membuat guru di sekolah tersebut terkejut melihat kemampuan membaca dan menulisku, dan akhirnya aku masuk juga di sekolah itu, SD N Sinduadi I.

6 tahun merepotkan guru di SD tersebut, akhirnya pada tahun 2004 aku lulus. Saat itu, banyak kawan di SD yang mengajakku untuk masuk di SMP N 2 Mlati atau SMP N 6 Yogyakarta, tapi entah kenapa aku justru lebih memilih SMP N 12 Yogyakarta. Menjalani tes, dan akhirnya diterima juga di Sperosta. Di SMP inilah bakat nakalku semakin berkembang, beberapa kali berkelahi meskipun bukan di lingkungan sekolah, pulang larut malam untuk main-main, hingga beberapa kali dipanggil ke BK, ya meskipun bukan karena pelanggaran seperti coret-coret tembok dan tawuran yang sering dilakukan beberapa temanku. Memang angkatan 2007 Sperosta bisa dibilang lebih nakal daripada angkatan lainnya pada saat itu. Dari angkatan itu juga lahir geng sekolah di Sperosta yang diberi nama ZRT (Zhareta). Sepertinya hingga saat ini, nama itu masih dipake oleh anak-anak Sperosta.

Tahun 2007, lulus dan bingung untuk melanjutkan sekolah di mana. Bapakku memberi ultimatum, jika tidak diterima di sekolah negeri Kota Yogyakarta, maka aku akan dimasukkan ke sekolah swasta kristiani. Ya, bapak dan ibuku memang berbeda agama, bapakku adalah seorang Katholik. Sebenernya aku sendiri jika tidak masuk ke sekolah negeri di Kota Yogyakarta lebih menginginkan untuk masuk ke SMA negeri di Sleman. Setelah mempertimbangkan, akhirnya diputuskan mendaftar SMA N 10 Yogyakarta dan SMA N 11 Yogyakarta, sedangkan pilihan sekolah swasta aku kosongkan. Dan setelah 3 hari proses RTO, akhirnya aku masuk di SMA N 10 Yogyakarta. Dari hasil RTO itu sendiri, sebenarnya aku masih bisa masuk ke SMA N 4 Yogyakarta dan SMA N 5 Yogyakarta, sempat menyesal juga tidak mendaftar di kedua sekolah itu, karena memang saat itu aku lebih memilih bermain aman melihat NEM SMPku yang pas-pasan. Di SMA N 10 Yogyakarta inilah aku berkenalan dengan Rohis Ulul Albab. Tidak bisa dipungkiri, organisasi inilah yang melatih aku untuk lebih berani tampil di muka umum dan berpikir lebih idealis.

Lulus SMA, diterima di UGM prodi Geografi dan Ilmu Lingkungan (GEL). Sebenernya GEL ini merupakan pilihan ke 4, karena ketika UM UGM 2010, 3 pilihanku tidak masuk semua, yaitu Agribisnis, Geofisika, dan Statistika. Tetapi memilih GEL bukan asal-asalan juga lho, tertarik di GEL karena Geografi Manusia, jadi kalo sekarang fokus ke Geografi Manusia ya itu memang sudah direncanakan sejak pendaftaran SNMPTN 2010. Di Geografi UGM ini, tetap lanjut organisasi. Di sini, aku lebih memilih BEM KM FGE UGM dan EGSA UGM, juga sempet sangat sebentar banget sekali di UKM tenis meja, tapi terus keluar dan lebih memilih bermain tenis meja di luar hingga akhirnya kini kutinggalkan dunia tenis meja itu (sebenernya ini korban laporan.haha). Dari kedua organisasi itu, selama 2 tahun, aku akui lebih fokus di BEM KM FGE. Dan di sinilah banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan, males kalau aku ungkapkan satu-satu, kayak wawancara jadinya. Tapi yang paling jelas terasa, salah satunya adalah sifat emosianku menurun. Ya memang sekarang sifat itu masih ada, tapi tidak separah sebelum di BEM KM FGE. Setelah masuk di kuliah blok ini, sebenernya merasa seperti ada yang hilang setelah memutuskan untuk berada di luar kepengurusan BEM KM FGE, aku rindu kebersamaan di sana, khususnya di PSDM Kabinet Geografi Bersatu. Adek-adek di sana banyak memberikan pelajaran dan inspirasi untukku, semangat mereka, kekompakan mereka, saking kompaknya tiap mau rapat pasti mereka berkoordinasi untuk mengatur strategi mementahkan argumen Aries, Lilis, dan aku, ya meskipun akhirnya strategi mereka banyak juga yang tidak berhasil. Hehe. Sebenernya Lilis dan aku lebih menjadi pihak penengah sih. Tapi dibalik itu, apa yang Aries, Lilis, dan aku sampaikan juga demi kemajuan mereka. Ah aku kangen mereka, kangen masa itu…

Di luar dunia pendidikan, kehidupan sosial di kampung sebenernya merupakan pembentuk karakter utamaku, selain di keluarga. Aku bersyukur pada usia 3 tahun keluargaku memutuskan untuk tinggal di rumah keluarga bapak di Kutudukuh, Sinduadi, Mlati, Sleman. Khususnya di RT 04, di sini para pemudanya memiliki semangat dan kebersamaan yang luar biasa, selain itu warga di sini juga hidup dalam suasana yang damai dan tenteram, saling menghargai antar sesama, dan meskipun berada di lingkungan perkotaan, rasa sosial dan gotong royongnya masih cukup tinggi. Di sini jugalah kesukaanku terhadap sepakbola muncul. Bagaimana jadi tidak suka, lha sejak usia 3 tahun sudah diajak bapak melihat pertandingan langsung di stadion, yang dilihat tentu saja PSS Sleman. Jadi jangan heran kalau sampai sekarang aku suka banget sama klub ini, sering posting tentang klub ini. Haha. Dan melihat pertandingan langsung PSS di stadion pun masih berlangsung hingga saat ini, bahkan saat pertandingan dengan musuh bebuyutan dan menimbulkan bentrokan antar suporter aku tidak gentar untuk datang langsung ke stadion menyaksikan PSS bertanding.

Mungkin sudah ribuan orang hilir mudik di kehidupanku, ada pertemuan dan ada perpisahan. Berbagai macam karakter dan tabiat sudah pernah aku jadikan teman. Aku tidak pernah membeda-bedakan teman, yang pasti jika dia mau menerimaku di kehidupannya, maka aku akan jadikan dia teman. Selain teman dan juga kenalan, tentu saja sudah ada lawan jenis yang sempat singgah dan mendapat tempat spesial di 21 tahunku ini, atau kalau tidak mau ribet sebut ajalah pacar. Hehe. Ya, terima kasih untuk kamu yang sekarang di PGSD UNY, kamu yang sekarang di FBS UNY, kamu yang sekarang di FAPET UGM, dan kamu yang sekarang di Psikologi UGM, terima kasih telah sempat memberikan warna yang indah di hidup ini, dan maaf atas kesalahanku selama ini. Oke, stop mellow!!!

Sebagai anak tunggal, banyak orang yang bilang aku manja. Kok anak tunggal, bukannya aku putra ketiga yang lahir dari rahim ibu?  Ya, kedua kakakku telah mendahului kami. Oke, stop mellow lagi!!! Manja, ya mungkin sedikitlah aku dimanjain, tapi mungkin lebih tepatnya kedua orang tuaku takut kehilangan lagi putranya. Oleh sebab itu mereka banyak memberiku batasan-batasan, ya meskipun pada akhirnya sering juga aku ngeyel. Kedua orang tuaku sudah melatih aku untuk mandiri sejak aku kecil. Yah gitulah…..

Oke, sekarang mellow dikit. Usia 21 tahun, mungkin sudah saatnya untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa, lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi lagi lagi. Selama ini sudah banya pandangan dari orang-orang, dari yang positif sampai yang negatif, dari yang aku itu baik, tidak mudah putus asa, friendly, sampai aku itu manja, keras kepala, egois, bahkan playboy (gilaaaakkkkk laku aja kagak,eh itu pandangan orang ding), semua aku terima kok. Yah, semua berhak memberikan penilaian ke aku, terserah mereka mau menilai aku seperti apa, jika itu belum sampai mengusik emosiku pasti akan kubiarkan, mungkin hanya akan aku jadikan bahan ontrospeksi diri, termasuk semua masukan yang akhirnya masuk ke aku. Ya, inilah aku, bagaimanapun, aku tetap akan menjadi Prima Dini Indria, mungkin aku akan meneladani sikap orang lain yang menurutku baik, tapi aku tidak akan menjadi orang lain, aku tetaplah aku, pribadi yang mencoba untuk selalu menjadi berguna di lingkungannya, pribadi yang selalu ingin memberikan pertolongan dan bantuan dengan apa yang aku bisa, pribadi yang saat tersakiti hatinya maka dia akan mendiamkan orang yang menyakitinya hingga orang itu minta maaf, pribadi yang tidak akan menyerah untuk mewujudkan keinginannya hingga batas ketidakmampuan, dan pribadi yang mencoba untuk tidak minder dengan keterbatasannya.

Iklan

KA Ekonomi yang Tidak Ekonomis

Tulisan kali ini dilatarbelakangi oleh kekagetan saya tadi pagi ketika mengecek harga KA Kahuripan jurusan Lempuyangan – Kiaracondong. Gimana tidak kaget, tiket yang semula seharga Rp 38.000,- untuk dewasa, mulai 1 April 2013 naik menjadi Rp 100.000,- atau mengalami kenaikan lebih dari 100%. Saya langsung menghubungi teman kuliah saya, Devki, yang merupakan seorang railfans dan cukup tahu info-info mengenai perkeretaapian di Indonesia. Katanya, secara bertahap seluruh kereta api kelas ekonomi akan  mengalami penambahan fasilitas berupa AC. Hal itu juga dialami KA Kahuripan sehingga harga tiketnya pun melonjak tajam. Sorenya, saya kemudian mencoba mengecek harga tiket KA Sri Tanjung jurusan Lempuyangan – Banyuwangi Baru untuk keberangkatan 1 Mei 2013. Maklum, liburan kemarin saya menggunakan KA Sri Tanjung tersebut dengan fasilitas berbeda. Ketika berangkat, waktu itu saya dan teman-teman menggunakan kelas ekonomi non-AC dengan harga tiket Rp 35.000,- sedangkan ketika pulang dengan terpaksa saya dan teman-teman menggunakan kelas ekonomi AC dengan tiket seharga Rp 120.000,-. Perbedaannya benar-benar cukup jauh. Ternyata untuk KA Sri Tanjung kelas ekonomi non-AC keberangkatan 1 Mei 2013 harga tiketnya untuk dewasa masih Rp 35.000,-.

Kembali ke masalah kenaikan harga tiket KA Kahuripan yang disebabkan penambahan fasilitas AC. Mungkin pihak PT. KAI mengambil langkah tersebut dengan tujuan untuk menambah kenyamanan para penumpang. Namun, kenaikan harga yang mencapai lebih dari 100% tersebut tentu saja akan sangat memberatkan masyarakat kelas menengah ke bawah. KA kelas ekonomi selama ini memang cukup digemari oleh masyarakat kelas menengah ke bawah dalam menempuh perjalanan jarak jauh, di samping karena harga tiketnya yang terjangkau, banyak kalangan masyarakat juga menganggap transportasi kereta api lebih aman dan nyaman dibandingkan moda transportasi darat lainnya.

Kenaikan harga tiket tersebut dapat menjadi bumerang tersendiri bagi PT. KAI. Terdapat beberapa kemungkinan (dari saya) yang dapat terjadi dengan adanya kenaikan harga tersebut:

1. Masyarakat kelas menengah ke bawah akan kesulitan untuk membeli tiket dengan harga tinggi tersebut. Dampaknya, akan banyak masyarakat yang beralih ke moda transportasi darat lainnya, misalnya bus antar kota/antar provinsi.

2. Masyarakat yang biasanya menggunakan KA kelas bisnis sangat mungkin beralih ke KA ekonomi AC. Di samping harga tiket yang jauh lebih murah, fasilitas yang didapat tidak jauh berbeda. AC, tirai, dan pengamen serta pengemis dilarang masuk. Meskipun saat saya dan teman-teman menggunakan KA Sri Tanjung kelas ekonomi AC kemarin sempat ada penjual yang masuk ke gerbong ber-AC, namun intensitasnya jauh lebih rendah, dalam perjalan Banyuwangi Baru – Lempuyangan tidak sampai 5 kali mereka masuk ke dalam gerbong ber-AC. Selain itu, petugas juga menyediakan bantal serta selimut untuk disewakan dengan harga yang tergolong murah, hanya Rp 5.000,-. Dengan begitu, pada akhirnya masyarakat pengguna kereta api kelas bisnis bisa menurun.

Memang sangat wajar apabila terdapat penambahan fasilitas juga terjadi kenaikan harga. Namun, kenaikan harga hingga mencapai lebih dari 100% tentu saja cukup tidak wajar, terlebih untuk masyarakat kelas menengah ke bawah. Selain itu, penambahan fasilitas berupa AC tersebut malah sebenarnya dapat menghilangkan esensi dari kelas ekonomi itu sendiri. Saya sendiri berpendapat, KA ekonomi sudah sangat nyaman saat ini, meskipun masih ada saja penjual, pengemis, maupun pengamen yang masuk ke gerbong, namun sudah tidak ada lagi penumpang berdiri alias jumlah penumpang disesuaikan dengan jumlah kursi, jadi dapat dipastikan semua penumpang mendapatkan tempat duduk. Alangkah lebih baiknya jika dana penambahan AC tersebut digunakan untuk menambah palang pintu pada lintasan kereta api yang belum memilikinya. Hal itu saya rasa lebih penting karena sampai saat ini lintasan kereta api tanpa palang pintu masih sering memakan korban jiwa.

Ini hanya sekedar pendapat saya menyikapi kekagetan saya tadi pagi, sekaligus mengisi waktu selo agar lebih produktif sedikit. CMIIW 😀

Elang Jawa Itu Kini Terbang Tinggi

Tulisan kali ini dilatarbelakangi oleh ketertarikanku pada salah satu berita yang terdapat di beberapa surat kabar harian di Yogyakarta, yaitu tentang Sri Sultan Hamengku Buwono X yang melepasliarkan seekor burung elang jawa pada hari Selasa kemarin di Bukit Turgo, Pakem, Sleman. Itu bukan karena nama hewan tersebut menjadi julukan klub sepak bola kesukaanku lho. Hehe. Elang jawa merupakan salah satu hewan yang endemik. Hewan ini konon hanya dapat hidup di sekitar Jawa Tengah, khususnya di sekitar Gunung Merapi. Elang jawa pun menjadi salah satu hewan yang langka dan berada diambang kepunahan. Hal itu disebabkan oleh hilangnya habitat mereka. Seperti yang telah diketahui, perkembangan permukiman di sekitar Lereng Merapi terjadi dengan pesat. Perkembangan permukiman yang diikuti dengan perkembangan aktivitas manusia tersebut pada akhirnya sedikit demi sedikit akan merusak hutan yang ada di Gunung Merapi, habitat dari burung elang jawa tersebut. Hal itu diperparah dengan adanya bencana alam berupa erupsi dari Gunung Merapi. Selain itu, perburuan liar juga menjadi faktor penyebab kelangkaan elang jawa. Bukti dari adanya perburuan liar elang jawa adalah burung yang dilepasliarkan oleh Sri Sultan tersebut. Burung tersebut pada awalnya ditemukan oleh seorang pemuda sedang diperdagangkan di sebuah pasar di Yogyakarta. Pemuda itu kemudian membeli burung tersebut dan menyerahkannya ke pusat penangkaran satwa liar di Kulon Progo (nama lembaganya aku lupa). Setelah ditangkarkan beberapa lama di tempat itu, burung tersebut akhirnya dilepasliarkan. Namun sebelum dilepasliarkan pada Selasa kemarin, burung itu sempat menjalani penyesuaian cuaca di Pakem selama seminggu. Jumlah elang jawa sendiri di lereng selatan Gunung Merapi sebelum erupsi 2011 adalah hanya tinggal 6 ekor (3 pasang).

Mungkin keberadaan suatu satwa di sekitar kita terkadang dianggap remeh. Padahal beberapa diantara hewan tersebut sudah berada di ambang kepunahan. Sungguh sangat disayangkan ketika salah satu satwa khas Indonesia mengalami kepunahan, seperti yang terjadi pada jalak bali, harimau jawa, harimau bali, dan sebagainya. Padahal layaknya budaya Indonesia, satwa-satwa tersebut merupakan warisan (warisan alam) yang harus dilestarikan. Tidak jarang orang-orang luar negeri tertarik mengunjungi Indonesia karena keberadaan beberapa hewan yang endemik di Indonesia, seperti komodo. Hewan sendiri termasuk dalam sistem ekologi. Dan jika keberadaan hewan-hewan di dunia ini mulai terancam, maka hal tersebut juga dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dan lingkungan. Itulah betapa pentingnya menjaga keberadaan makhluk hidup yang ada di sekitar kita, bukan hanya hewan,tapi juga tumbuhan dan tentu saja habitat mereka. Jangan sampai daftar kepunahan makhluk-makhluk endemik yang ada di Indonesia terus bertambah. Tentu kita semua akan senang jika cucu-cucu kita kelak juga dapat menikmati apa yang bisa kita nikmati sekarang. Intinya sih, SAVE OUR EARTH, jaga kelestarian bumi kita, beserta seluruh kekayaan alam dan hayati yang ada di dalamnya.

Dampak Negatif Penambangan Batu Kapur

Sumberdaya kapur maupun gamping di Indonesia yang cukup melimpah menjadi daya tarik tersendiri bagi investor maupun masyarakat untuk memanfaatkannya melalui kegiatan pertambangan. Dapat dilihat pada kawasan-kawasan karst akan dijumpai banyak kegiatan penambangan, baik dalam skala besar maupun kecil. Kegiatan penambangan tersebut akan banyak membantu perekonomian penduduk di sekitarnya. Kawasan karst sendiri secara fisik merupakan kawasan yang kering dan sulit untuk ditanami. Oleh karena itu, penambangan kapur menjadi alternatif perekonomian penduduk.

Karst pada dasarnya merupakan kawasan yang rentan akan kerusakan lingkungan. Penambangan kapur di kawasan karst yang saat ini menjadi tidak terkendali mengakibatkan kerusakan lingkungan. Kerusakan tersebut berawal dari penebangan-penebangan vegetasi penutup untuk mendukung aktivitas penambangan batu kapur. Akibat dari penebangan-penebangan vegetasi tersebut, bukit-bukit karst menjadi gundul. Hal yang sangat disayangkan adalah tidak adanya usaha untuk mereklamasi bukit tersebut setelah aktivitas penambangan selesai.

Penggundulan yang terjadi di bukit-bukit karst tersebut mengakibatkan tidak mampunya wilayah tersebut untuk menangkap air hujan. Dampaknya, wilayah tersebut akan semakin kering. Berkurangnya vegetasi di sekitar perbukitan karst juga menyebabkan berkurangnya kandungan oksigen di udara sehingga suhu di wilayah tersebut menjadi semakin tinggi. Sedikitnya vegetasi pada kawasan karst juga menyebabkan tanah menjadi semakin labil. Tidak adanya penahan/penyangga berupa pepohonan membuat wilayah tersebut sangat rentan gerakan massa tanah, terutama bahaya longsor lahan. Selain itu, masalah-masalah lingkungan lain yang mungkin timbul adalah penurunan produktivitas tanah, terjadi erosi dan sedimentasi, serta gangguan terhadap flora dan fauna yang memiliki habitat di kawasan karst. Dampak-dampak tersebut tentu saja akan sangat menggangu aktivitas penduduk sekitar. Oleh sebab itu, daerah-daerah di kawasan karst biasanya memiliki angka migrasi keluar yang tinggi. Misalnya, penduduk di kawasan karst Pegunungan Sewu, Gunungkidul, yang banyak memilih mencari pekerjaan di luar daerah, bahkan banyak sekali yang mengadu nasib hingga di Jakarta meskipun harus menjadi pembantu rumah tangga.

Banyak penyakit yang muncul di sekitar area penambangan batu kapur di kawasan karst. Misalnya gangguan pada saluran pernapasan yang diakibatkan oleh asap-asap dari pabrik maupun aktivitas penambangan. Asap tersebut dapat menimbulkan penyakit-penyakit seperti sesak napas, bronchitis, asma, ISPA, dan bahkan radang paru-paru. Selain penyakit/gangguan pada sistem pernapasan, penyakit kencing batu juga menjadi gangguan kesehatan yang sering dijumpai di kawasan karst. Penyakit kencing batu ini disebabkan oleh air yang dikonsumsi oleh masyarakat mengandung zat kapur dengan kadar yang tinggi. Zat kapur pada air tersebut dapat mengendap di saluran ekskresi manusia menjadi padatan kecil di dalam tubuh. Padatan tersebut akan mengganggu jalannya sistem ekskresi yang dinamakan kencing batu. Untuk menghindari penyakit kencing batu tersebut, penduduk terpaksa mengeluarkan biaya untuk membeli air bersih. Namun, di beberapa tempat telah dibangun tandon besar penampung air hujan yang dapat digunakan oleh penduduk untuk aktivitas sehari-hari.

Kawasan karst merupakan salah satu lahan yang kritis dan rentan kerusakan lingkungan. Oleh sebab itu, perlindungan terhadap kawasan karst harus digalakkan. Sebenarnya peraturan untuk melindungi kawasan karst sudah ditetapkan oleh pemerintah, namun upaya untuk menegakkan peraturan tersebut masih sangat minim. Selain itu, di kawasan karst juga kerap terjadi benturan kepentingan. Penduduk pada wilayah tersebut mengalami suatu dilema, pada satu sisi mereka harus ikut aktif dalam upaya melindungi kawasan karst, namun di sisi lain alasan perekonomian menyebabkan mereka “terpaksa” melakukan kegiatan penambangan batu kapur di wilayah tersebut. Jalan tengah harus dicari untuk menyelesaikan masalah tersebut. Penambangan di kawasan karst tersebut harus diimbangi dengan upaya reklamasi dan rehabilitasi lahan bekas pertambangan. Selain itu, penambangan juga tidak boleh dilakukan secara berlebihan dan harus tetap berada di dalam koridor hukum yang berlaku. Untuk mewujudkan hal tersebut tentu saja tidak mudah, dibutuhkan ketegasan dari pemerintah serta kesadaran diri dari penambang batu kapur untuk ikut serta dalam upaya pelestarian lingkungan karst.

Bertanggung Jawablah dengan Pilihanmu

Hidup ini dipenuhi dengan berbagai pilihan, bahkan ada juga yang mengatakan kalau hidup ini sendiri merupakan pilihan. Semua orang pasti melakukan kegiatan memilih di setiap waktunya, dari hal yang paling dasar yaitu memilih untuk melakukan apa. Namun, banyak orang yang melupakan alasan dia memilih melakukan suatu hal. Jangankan lupa, beberapa orang memutuskan untuk memilih tanpa dasar yang jelas dan memikirkannya terlebih dahulu.

Memilih sering terdengar di dunia perkuliahan, bahkan sejak awal sebelum menjadi mahasiswa. Memilih universitas atau jurusan ketika mendaftar perguruan tinggi, memilih untuk mengikuti organisasi atau kepanitiaan atau ingin berkonsentrasi dengan akademik, memilih mata kuliah yang akan diambil, hingga memilih dalam Pemira. Banyaknya pilihan di masa perkuliahan terkadang membuat mahasiswa hilang kontrol. Misalnya, seseorang yang memilih untuk mengikuti berbagai organisasi tanpa melihat kemampuan pada dirinya sendiri. Pada akhirnya mahasiswa tersebut merasa kesulitan untuk mengikuti berbagai kegiatan di organisasi-organisasi tersebut dan akhirnya tidak aktif dan kemudian menghilang. Atau pada kasus lain, ketika mengambil suatu mata kuliah yang tidak dipikirkan dengan matang, kemudian pada akhirnya dia merasa tidak mampu mengikuti kuliah itu dan akhirnya mendapat nilai yang jelek. Dan masih banyak kasus lainnya……

Yang menjadi persoalan di sini bukan apa pilihanmu, namun sudahkah kamu memilih dengan hati. Salah memilih sering berakibat fatal. Tidak hanya merugikan diri sendiri, tapi juga merugikan orang lain. Misalnya pada kasus memilih organisasi yang tidak cocok dengan dirinya hingga akhirnya dia menghilang, tentu saja ketika dia menghilang yang akan dirugikan adalah orang-orang yang ada di organisasi tersebut. Oleh karena itu, sangat penting untuk memikirkan terlebih dahulu hal apa yang akan kamu pilih, sangat penting untuk memilih dengan hati, sangat penting untuk menjalani pilihanmu dengan sungguh-sungguh.

Salah memilih bukan hal yang luar biasa, hal itu bisa terjadi di mana pun tempatnya dan kapan pun waktunya. Yang terpenting, bertanggung jawablah dengan pilihanmu, terimalah konsekuensi dari pilihanmu, dan jangan mengeluh ketika menjalani pilihanmu sendiri, bahkan ketika kamu sadar bahwa kamu telah salah memilih. Yang tidak kalah penting adalah hormati apapun pilihan orang lain sepanjang itu tidak mengganggumu dan tidak menyalahi norma, etika, dan hukum.

Ekspedisi Dieng 2012 : Demography in Action!!!

Dataran tinggi Dieng, atau juga biasa dikenal dengan Dieng Plateau, 3 – 7 Februari 2012 ini merupakan kali keempat aku pergi ke sana, namun kali ini bukan hanya sekedar bermain dan berwisata, melainkan juga melakukan semacam penelitian kecil yang merupakan salah satu proker dari EGSA. Kami menamakan kegiatan ini Ekspedisi Dieng 2012. Di kegiatan ini, tim kami dibagi menjadi 2 grup besar, yaitu Geografi Fisik dan Geografi Manusia. Di dalam Geografi Fisik terdapat 4 divisi, yaitu Geomorfologi, Hidrologi, Tanah, dan Vulkanologi. Sedangkan di dalam Geografi Manusia dibagi menjadi 3 divisi, yaitu Demografi, Sosial-Budaya, serta Ekonomi-Transportasi. Aku sendiri berada di Divisi Demografi.

Divisi Demografi di Ekspedisi Dieng 2012 memiliki 3 agenda. Pada hari pertama, kami lebih fokus melakukan penelitian tentang usia kawin pertama penduduk Dieng. Penelitian ini dilakukan dengan kuisioner. Kami menyebar kuisioner di 4 desa. Desa Dieng Kulon, Desa Karangtengah, dan Desa Kepakisan termasuk dalam wilayah administratif Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Sedangkan Desa Jojogan termasuk di dalam wilayah administratif Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Hari kedua, kami mencoba mengetahui seluk beluk guide yang ada di Dieng. Metode yang kami gunakan adalah dengan wawancara pada beberapa narasumber yang paham akan kondisi dan sejarah guide di Dieng, khususnya di Desa Dieng Kulon. Hari ketiga, menurut teman-teman ini merupakan hari paling seru. Pada hari ini kami mencoba melihat kegiatan anak-anak di Dieng. Cara yang kami gunakan adalah dengan mengikuti kegiatan anak-anak tersebut sejak berangkat sekolah hingga tidur malam. Kami memilih 4 anak yang kesemuanya merupakan siswa kelas 6 di SD N 1 Dieng Kulon.

Seperti itulah gambaran penelitian yang dilakukan oleh Divisi Demografi Ekspedisi Dieng 2012. Lantas, bagaimana hasil penelitian dari semua divisi yang ada di Ekspedisi Dieng 2012? Tenang, temen-temen bisa melihatnya pada tanggal 23 – 25 November 2012 di Pameran Lingkungan Hidup EGSA, tempatnya di Fakultas Geografi UGM, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta. Oh iya, 2013 juga akan ada lagi lho ekspedisi ini, untuk tempatnya masih dirahasiakan, biar surprise gitu. Jadi untuk kamu yang ngakunya mahasiswa Geografi Lingkungan (GEL) angkatan 2011 dan 2012, tunggu publikasinya dan daftarkan diri kalian pada OPEN RECRUITMENT EKSPEDISI GEOGRAFI LINGKUNGAN 2013 🙂